5 Cm



"yang bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya…"

Berbicara tentang impian atau cita-cita, semua manusia pasti punya akan hal itu. Dari aku kecil, aku sudah mulai bercita-cita banyak hal, ingin jadi arsitek, pilot, dokter, dll. Entah kenapa aku merasa sewaktu aku kecil, aku berani bercita-cita sebanyak dan setinggi mungkin. Namun seiring usia dan juga semakin aku mengetahui fakta tentang kehidupan yang sebenarnya. Cita-cita dan impian itu perlahan luntur ditelan waktu.

Aku mulai merasa ragu akan keyakinanku itu. Aku sangat merasa tidak percaya diri akan kemampuanku disbanding teman-temanku yang lain. Akupun mulai khawatir akan masa depanku nantinya. Aku tak berani lagi bermimpi, aku mulai realistis.. bahwa kehidupan tidak seindah yang kita harapkan.

Kehidupanku semakin lama semakin kelam, setiap hari selalu merasa depresi dan putus asa, pasrah akan nasib yang kuterima. Terkadang akupun bersungut dan mengeluh kepada Tuhanku karena merasa diperlakukan tidak adil. Aku menjadi orang yang rendah diri juga penuh rasa iri hati.

Namun Tuhan itu baik dan luar biasa, ditengah keputusasaan diriku.. masih ada orang-orang yang setia menemaniku, baik dalam keluarga maupun juga teman-temanku (Thanks for all Guys!). Aku mulai sadar bahwa aku tak sendiri dalam menghadapi realitas kehidupan ini.

Lalu kemudian aku belajar kalau aku harus menjadi diri aku sendiri, bukan menyibukkan diri dengan iri akan kemampuan orang lain. Aku mungkin tidak sepintar mereka, sekaya mereka, sepopuler mereka. Tapi aku bangga akan diriku, karena Tuhan sendiri yang telah menciptakan aku, unik dan apa adanya. Memang benar.. Semua akan tambah indah kalau kita tetap menjadi diri kita sendiri, bukan orang lain.
Aku sekarang semakin berani untuk menghadapi masa depan, menatap kembali mimpi-mimpi dan impianku. Aku tidak takut lagi walau keadaan sesulit apapun. Aku mencoba untuk menintropeksi diriku agar aku menjadi lebih baik lagi, bukan hanya bisa menyalahkan keadaan. Kehidupan adalah 10% yang terjadi pada dirimu dan 90% sisanya adalah bagaimana kamu menghadapinya.

Tidak Bisa Menyerah! Kata-kata itu terus kusimpan dalam benakku dan terus kuteriakkan dalam hatiku hingga saat ini. Kata-kata ini yang terus menjadi sumber motivasiku disaatku terjatuh dan mengalami banyak kegagalan. Namun gagal bukanlah alasan untuk berhenti, melainkan pelajaran yang amat berharga yang telah Tuhan berikan.

“Our greatest glory is not in never falling… but in rising every time we fall”

Satu hal lagi yang ingin aku bagikan dari tulisan ini, bahwa kita harus Percaya akan mimpi-mimpi kita, cita-cita kita, juga keyakinan kita. Letakkan semuanya itu tepat didepan kening kita, tidak menempel.. tapi biarkan dia..

Menggantung.. Mengambang.. 5 Centimeter.. di depan kening kita…

Dan setelah itu yang kita perlu hanya kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas. Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya, serta mulut yang akan selalu berdoa.

Aku terus memegang prinsip itu, dan aku akan terus berjuang menghadapi hidup ini dengan penuh semangat dan rasa bersyukur. Terima kasih kuucapkan untuk keluargaku, teman-temanku, dan para pembaca sekalian. Semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman semuanya.
Tuhan memberkati

Inspired by: 5Cm’s Novel (Donny Dhirgantoro)

1⁰ Celcius



Saya mau sedikit share dari apa yang saya dengar beberapa hari yang lalu, semoga tulisan ini bisa berguna, memotivasi dan menjadi pelajaran untuk teman-teman semua,
Selamat Membaca! =)

Jika air dipanaskan hingga bersuhu mencapai 99⁰ Celcius, Tentu saja air itu dapat digunakan untuk banyak hal, air tersebut dapat digunakan untuk menyeduh teh atau kopi, memasak indomie, merebus telur, dsb. Namun bagaimana jika suhu air tersebut saya panaskan kembali sehingga suhu air tersebut naik menjadi 100⁰C? Mungkin terlihat tidak ada perbedaan yang berarti karena suhunya hanya naik 1⁰C saja. Tapi fakta yang sebenarnya mengatakan bahwa air harus bersuhu 100⁰C untuk menggerakkan sebuah kereta api.



Dari hal diatas kita belajar bahwa sedikit saja perubahan yang kita lakukan dapat memberikan dampak yang jauh lebih besar. Jika kita melakukan sesuatu sedikit saja lebih baik dari apa yang biasanya orang lain lakukan, tentunya kita adalah 1⁰C itu. Misalnya dalam hal pekerjaan, bila tidak ada Bos, biasanya orang akan diam-diam bermain Facebook, namun jika kita ingin menjadi 1⁰C itu maka kita harus berbeda dengan orang2 itu dengan cara menjaga Integritas kita. Itulah 1⁰C!

Jangan pernah meremehkan setiap hal baik yang kita lakukan, karena walaupun kecil namun kita akan bertumbuh menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Keberhasilan bukanlah sesuatu yang didapatkan secara tiba-tiba. Keberhasilan adalah sebuah proses yang panjang, yang penuh dengan ujian dan tantangan, yang terbentuk dari setiap hal2 kecil yang kita lakukan.



Sukses bukanlah sebuah tujuan.. Sukses adalah perjalanan itu sendiri!

Hua Mu Lan



Hua Mu Lan
Kepatuhan dan Keberanian seorang perempuan

Mu Lan adalah nama dari seorang perempuan yang hidup pada masa dinasti Sui (590-618). Saat itu negaranya sedang berada dalam keadaan perang sehingga mewajibkan setiap pria harus ikut latihan militer dan menjadi tentara kerajaan tak terkecuali ayah Mu Lan. Namun kondisi ayahnya sudah tidak memungkinkan karena telah berumur dan sakit-sakitan. Karena itu Mu Lan secara sukarela menggantikan ayahnya untuk memenuhi panggilan raja menjadi tentara. Untuk dapat menjadi seorang tentara, ia harus menyamar menjadi seorang laki-laki. Selama dua belas tahun Mu Lan mengabdikan dirinya menjadi seorang tentara dan selama itu pula ia banyak berjasa bagi negaranya. Identitasnya baru diketahui rekan-rekannya setelah ia tiba di rumah dan mengganti pakaiannya.

Kisah ini sendiri didapat dari sebuah balada Mu Lan yang berusia lebih dari seribu tahun sehingga mengundang banyak penelitian. Akan tetapi ada satu hal yang jelas bagi para penganut Konfusianisme, dia adalah seorang Xiaonu, anak perempuan yang patuh kepada orang tuanya, karena dia rela meninggalkan kenyamanan dan keamanan dalam rumah tangganya untuk pergi ke medan perang yang penuh dengan kekerasan dan bahaya.

Xiao adalah salah satu prinsip Konfusianis yang penting. Setiap orang harus menunjukkan xiao, tidak saja terhadap orang tuanya, tetapi juga terhadap nenek moyangnya dan terhadap semua orang yang lebih tua pada umumnya, termasuk raja di Negara, atasan dalam pekerjaan dan sebagainya.

Nama Mu Lan menjadi identik dengan keberanian dan kepatuhan. Secara harfiah ia berarti anggrek kayu. Dalam kebudayaan barat bunga ini dapat disamakan dengan bunga Magnolia (magnolia liliflora). Bai Ju Yi pernah menulis sebuah syair tentang bunga ini. Sedangkan penulis dan filsuf Lin Yutang member nama Mulan pada tokoh dalam karya novelnya yang berjudul Moment in Peking. Kisahnya mengenai pemberontakan Boxer di Tiongkok pada tahun 30’an, dimana banyak Mulan-Mulan terjun ke medan perang melawan Jepang.

Sekarang ini kehadiran perempuan dalam kegiatan militer ataupun kepolisian sudah tidak asing lagi. Mereka tidak segan-segan menunjukkan keberanian mereka walaupun mereka perempuan. Tindakan mereka ini patut untuk kita hargai dan hormati. Bagaimanapun mereka berjuang untuk keluarga mereka, untuk Negara, dan untuk orang-orang yang mereka cintai.

DIARY si Bocah Tengil



DIARY si Bocah Tengil
Jeff Kinney

Novel ini tergolong unik, karena novel ini tidak hanya berisi tulisan, tetapi juga diisi dengan gambar-gambar yang lucu. Walaupun begitu, gambar-gambar tersebut tergolong sederhana sehingga mudah dicerna oleh pembaca. Novel yang kubeli pada bulan agustus kemarin ini bercerita tentang kehidupan seorang anak yang masih duduk di sekolah menengah pertama (SMP) bernama Greg Heffley. Kehidupannya yang jenaka, konyol, dan juga unik akan membuat anda tersenyum kecil dan juga tertawa dalam hati.

Berikut ini adalah salah satu kutipan cerita favoritku dalam buku ini,

“Aku benar-benar sulit menerima bahwa musim panas sudah berlalu dan aku harus bangun dari tempat tidur:setiap pagi untuk berangkat sekolah.

Musim panasku tidak dimulai dengan baik; semua gara-gara kakakku Rodrick. Beberapa hari pertama di awal liburan musim panas, Rodrick membangunkanku di tengah malam. Dia bilang aku ketiduran sepanjang musim panas, tetapi aku beruntung bisa bangun tepat waktu pada hari pertama masuk sekolah.

(gambar Rodrick membangunkan Greg)

Kalian pasti berpikir aku terlalu bodoh untuk percaya pada kibulan seperti itu. Namun, Rodrick memakai baju sekolah dan dia menyetel jam bekerku sehingga waktu itu tampak seolah-olah sudah pagi. Ditambah lagi, dia menutup semua tirai jendelaku sehingga aku tidak bisa melihat langit di luar yang masih gelap.

Setelah Rodrick membangunkanku, aku berganti pakaian dan turun ke lantai bawah untuk menyiapkan sarapan sendiri, seperti yang biasa kulakukan setiap pagi pada saat sekolah. Namun, aku pasti membuat gaduh karena hal berikutnya yang terjadi adalah Dad turun ke lantai bawah. Dia meneriakiku karena makan Cheerios pada pukul 3.00 dini hari.

(gambar Dad meneriaki Greg yang sedang sarapan)

Aku membutuhkan waktu semenit untuk menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Setelah sadar, aku memberi tahu Dad bahwa Rodrick mengerjaiku, dan DIALAH yang seharusnya diteriaki.

Dad berjalan ke ruang bawah tanah untuk mendamprat Rodrick, dan aku membuntutinya. Aku nggak sabar ingin melihat Rodrick mendapatkan batunya. Namun, Rodrick menutupi jejaknya dengan cukup baik. Dan sampai hari ini, aku yakin Dad berpikir otakku agak nggak beres.

(gambar Dad dan Greg melihat Rodrick sedang tertidur pulas)”


Bagaimana? Menarik bukan.. buku ini masih mudah di cari karena masih tergolong baru. Teman-teman bisa mencarinya di Gramedia atau Toko Gunung Agung. Jika sudah menemukannya dan membelinya, saya ucapkan selamat membaca! =)

Anak yang hilang

Anak yang hilang

“Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”
Lukas 15:24

Cerita anak yang hilang tentu sudah tidak asing lagi bagi kita. Salah satu kisah yang terdapat didalam Alkitab tepatnya pada Injil Lukas 15:11-32. Kisah tentang anak bungsu yang menuntut harta warisan bagiannya, lalu pergi dari rumahnya, berfoya-foya dan menghamburkan harta miliknya, dan akhirnya ia jatuh miskin, ia menyadari dan menyesali perbuatannya dan akhirnya ia kembali ke rumah ayahnya. Itu semua adalah gambaran tentang kita, kita yang terjerumus dalam dosa, dan ketika kita berobat, kita mendapatkan kasih pengampunan dari Bapa di Surga.

Biasanya dalam kisah ini yang menjadi fokus adalah si bungsu. Namun sebenarnya sosok si sulung pun tidak beda jauh dari gambaran kita.
“Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku.”
“Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.”
Begitulah si sulung protes kepada bapanya.

Kita terkadang juga seperti si sulung itu. Kita memang tidak sampai ‘terhilang’ atau terjerumus dalam ‘kemabukan duniawi’. Kita rajin ke gereja, aktif dalam pelayanan, pokoknya kita adalah ‘orang baik-baik’. Tetapi yang sebenarnya hidup kita dalam ketidaktulusan. Kita melakukan semua kebaikan dengan mengharapkan pamrih atau upah, mengharapkan berkat ini dan itu dari Tuhan, berharap agar keinginan2 kita dikabulkan oleh Tuhan.

Itulah sebabnya ketika ada ‘pendosa’ yang bertobat dan kemudian mendapatkan Kasih dari Tuhan, kita protes tidak bisa terima. Sebab kita dengan angkuhnya merasa diri kita lebih baik dan lebih layak dari orang tersebut. Secara tidak langsung, kita telah menjadi hakim atas sesama kita.

Jika kita masih hidup dalam dosa, segeralah bertobat, tinggalkan dan buang jauh2 perbuatan dosa tersebut. Dan jika kita masih melakukan segala sesuatu dengan tidak tulus dan mengharapkan imbalan, segeralah berubah! Lakukan segala hal dengan tulus tanpa mengharapkan ‘upah’. Biarlah nama Tuhan dipermuliakan lewat perbuatan2 kita.

Tidakkah kita rindu kembali kepada Bapa?

From: Renungan Harian